Abu's posts with tag: kolom

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Blog EntryPandangan Islam Terhadap Valentine DayFeb 14, '07 3:08 AM
for everyone

Islam diturunkan sebagai agama universal yang rahmatan lil 'alamin. Kedatangan Islam bukan untuk menyengsarakan umat manusia. Sebaliknya, Islam datang agar manusia mampu menikmati dan merasakan rasa cinta dan kasih sayang sesamanya. Bahkan lebih dari itu, Islam mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya sebatas kepada manusia, Islam menyuruh untuk menebar kasih sayang kepada semua makhluk, termasuk hewan dan binatang.

 

Sebagian besar ulama Islam seperti Ibnu Qayyim dan Ibnu Taimiyah melarang umat Islam untuk ikut merayakan Valentine. Menurut beliau, hari besar yang umat Islam tidak diperbolehkan untuk terlibat di dalamnya adalah semua jenis hari raya pemeluk agama lain selain Islam. Bahkan beliau meluaskan mengertiannya bahwa tidak hanya yang terkait dengan hari besar agama non Islam, tetapi hari raya apapun yang tidak ada dasarnya dalam Islam pun juga diharamkan untuk menjalankannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur'an surat AlKaafirun ayat 6 : "Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku."

 

Islam tidak mengenal hari kasih sayang yang serupa dengan Valentine Day. Kasih sayang dalam Islam bersifat universal, tidak dibatasi waktu dan tempat dan tidak dibatasi oleh objek dan motif. Hal ini sesuai dengan hadist nabi Muhammad: "Cintailah manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri." (H.R. Bukhari). Islam sangat melarang keras untuk saling membenci dan bermusuhan.

 

Islam sangat menjunjung tinggi akan arti kasih sayang terhadap umat manusia. Rasulullah saw. bersabda : "Janganlah kamu saling membenci, berdengki-dengkian, saling berpalingan, dan jadilah kamu sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara. Juga tidak dibolehkan seorang muslim meninggalkan (tidak bertegur sapa) terhadap sudaranya lewat tiga hari" (HR. Muslim). Kasih sayang dalam Islam diwujudkan dalam bentuk yang nyata seperti silaturahmi, menjenguk yang sakit, meringankan beban tetangga yang sedang ditimpa musibah, mendamaikan orang yang berselisih, mengajak kepada kebenaran (amar ma'ruf) dan mencegah dari perbuatan munkar. Dengan demikian kasih sayang dalam Islam lebih indah, lebih konkrit dan lebih universal dari sekadar kasih sayang versi Valentine Day.

 

Namun demikian tidak benar bila kemudian kita  membenci dan memusuhi orang yang merayakan Valentine. Mereka tetap saudara kita sebangsa dan setanah air. Kehidupan harmonis yang saling menghormati harus tetap dijaga. Tidak ada salahnya kita tersenyum dan bertegur sapa kepada mereka, sepanjang dalam batas kewajaran saja. Akan lebih baik kalau kita mampu memberikan informasi yang sebenarnya perihal Valentine Day. Karena masih banyak remaja kita yang suka ikut-ikutan kawan, tanpa mengetahui arti di balik perbuatan yang mereka kerjakan.

 

 

 


Saya sempat kaget ketika buka Republika edisi 13 Februari. Ditengah kehidupan yang serba sulit, kemiskinan yang masih menjadi permasalahan hidup, eh ternyata ada anggaran yang malah menumpuk. Ini salah siapa? Bangsa ini akan dibawa kemana? Lebih jelasnya saya sertakan artikelnya.

Bank Dunia kembali memublikasikan kajiannya terhadap perekonomian Indonesia. Kali ini, Pengeluaran Publik Indonesia 2007, menjadi fokus kajian. Hasilnya, mungkin cukup mengejutkan; sampai November 2006, sebanyak Rp 96,69 triliun anggaran daerah belum digunakan, alias nganggur!

Itu jelas bukan jumlah sedikit. Jelas pula bisa bermanfaat bagi pembangunan infrastruktur di daerah-daerah, sehingga mampu menunjang pemerataan pembangunan di daerah bersangkutan. Namun, kajian itu menyebutkan banyak pemerintah daerah (pemda) kesulitan membelanjakan tambahan sumber daya anggarannya. Akibatnya, anggaran yang tidak dibelanjakan terus meningkat.

Padahal, di sisi lain, pembangunan infrastruktur di daerah-daerah bakal sangat membantu pertumbuhan ekonomi di daerah itu sendiri. Kelengkapan serta kualitas infrastruktur yang memadai, bukan tak mungkin menjadi daya tarik tersendiri bagi investor. Dan kehadiran investasi di suatu daerah bisa diharapkan berdampak positif secara ekonomi bagi masyarakat daerah. Tapi, situasi dan kondisi itu sulit diharapkan akan terlihat dalam jangka pendek. Bahkan, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, pun mengakui ada kelambanan pemda dalam penyerapan anggaran.

Tak pelak lagi, kita berharap dana-dana mubazir seperti itu harus secepatnya dimanfaatkan. Aparat di daerah sudah saatnya meningkatkan kemampuan mengelola keuangannya sendiri. Ini tentu termasuk juga memperbaiki penyusunan perencanaan anggaran daerah.

Faktor mentalitas aparat juga perlu mendapat perhatian. Sebab, selama ini, terkait upaya-upaya penegakan hukum, justru muncul keengganan para pelaksana proyek bakal terjerat proses hukum. Fenomena kekhawatiran ini muncul secara kolektif, baik di daerah maupun di pusat. Akibatnya, pelaksanaan proyek jadi tidak efektif dan serba ragu.

Jika semua prosedur dan proses tender dilakukan secara terbuka dan transparan, serta bisa dipertanggungjawabkan, haruskah takut? Atau, jangan-jangan, lantaran sudah terbiasa menjadikan dana proyek sebagai ajang korupsi, makanya ketakutan itu muncul. Ini jelas bukan yang kita harapkan. Kita butuh pimpinan (pelaksana) proyek yang berani berbeda di tengah masih kuatnya budaya korupsi.

Selain mencari pelaksana proyek, terutama di daerah, yang bermental seperti itu, kita butuh juga perbaikan kesadaran tentang pentingnya implementasi anggaran. Selama ini, banyak aparat di daerah kelihatannya belum sepenuhnya menyadari anggaran sebagai kunci pertumbuhan ekonomi. Jika ada keterlambatan dan penundaan dalam implementasi anggaran, makanya akan berakibat pada melambatnya pertumbuhan ekonomi. Dan itu berarti upaya peningkatan kesejahteraan publik juga bakal tersendat.

Miris rasanya membayangkan sebuah negeri dengan sumber daya alam melimpah dan dana memadai, tapi tak ada yang mau benar-benar bekerja cuma karena takut dituduh korupsi.

artikel asal di sini


“Adapun Dhammah bisa menjadi tanda I’rab Rafa’ dalam empat tempat, yaitu: Isim Mufrad (tunggal), Jama’ Taksir, Jama’ Muannats Salim dan Fiil Mudlori’ yang huruf akhirnya tidak berupa huruf illat.”

 

Permasalahan hidup ini sangat kompleks. Kita tidak mungkin mampu menyelesaikannya secara individual. Diakui atau tidak kita membutuhkan sebuah komunitas yang bisa diajak bekerjasama untuk menuntaskan pekerjaan-pekerjaan itu. Kejayaan umat tidak akan mungkin tercapai oleh segelintir tangan-tangan kecil. Butuh tenaga dan pikiran besar. Dan sesuatu yang besar itu tak mungkin diraih kecuali dengan jumlah manusia yang besar pula. Itulah jamaah.

 

Jamaah memang sarana untuk menggapai cita-cita khairu ummah. Namun tidak semua ‘ikatan’ dapat mengantarkan kepada kejayaan. Jika perkumpulan itu hanyalah sembarang ikatan, yang diusung oleh sembarang orang, maka hanya akan mengantarkan kepada kerusakan. Tidak semua persekutuan dapat melahirkan hasil yang bermutu. Maka tidak ada salahnya, kita merenung sejenak mengingat kembali perjalanan ‘kereta’ ini. Apa yang sudah kita berikan untuk dakwah ini. Sudah berapa banyakkah kontribusi jamaah yang sudah disumbangkan untuk kekejayaan umat. Jangan sampai kita sudah berlama-lama masuk dalam gerbong dakwah, tapi malah menjadi dungu dan bisu dengan visi misi yang dituju.

 

Dhammah adalah lambang dari jamaah. Dhammah  bisa menjadi tanda rafa’  apabila berada dalam empat tempat. Artinya, sebuah jamaah itu akan mampu menjadi sarana tercapainya kemenangan jika memenuhi empat kriteria. Pertama, Isim Mufrad (independen). Sebuah organisasi akan disegani jika mampu mandiri. Mandiri tidak hanya dalam bidang finansial, tapi juga dalam segi-segi yang lain. Imam Hasan Al Banna pernah ditawari bantuan yang menjanjikan oleh pihak Inggris, karena jamaahnya nampak miskin dari segi finansial waktu itu. Namun dengan tegas, Imam Al Banna menolaknya. Bukan lantaran ia tidak kecipratan bagian. Kalau mau ia bisa mengambil sesukanya. Ia mengatakan,”Tangan yang menerima bantuan akan mandul untuk melahirkan pukulan.”

 

Kriteria kedua adalah Jama’ Taksir (Banyak personilnya tapi menghargai kebebasan berpendapat). Banyaknya pendukung bukan menjadi masalah, malah kalau bisa tertandzim rapi akan menjadi kekuatan yang sangat berarti.  Sam’an wa tha’atan (taat dan patuh) bukan berarti sepi dari kritik dan saran. Tak ada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan. Namun bila sudah menjadi keputusan Syura, setiap anggota harus menerima lapang dada. Meskipun pada awalnya nampak bertentangan dengan pendapat kita.

 

Kriteria ketiga adalah Jama’ Muannats Salim (Ada divisi kewanitaan). Proyek besar dakwah ini tidak hanya untuk kaum lelaki. Kaum perempuan juga berhak menerima dan memperjuangkan risalah dakwah.  Dalam Islam derajat laki-laki dan perempuan disamakan. Tidak ada yang lebih mulia, kecuali yang lebih bertakwa. Namun kosakata ‘perkumpulan wanita’ ini bukan berarti asal ngumpul, melainkan harus memenuhi syarat “Salim”, yaitu selamat atau terjaga. Meski peran kaum perempuan ini tidak begitu kelihatan, namun mereka sangat menentukan. Lembaga, jamaah dan negara akan sengsara jika kaum perempuannya tidak terididik dan terbina.

 

Kriteria keempat adalah, Fiil Mudhari’ yang huruf akhirnya tidak berupa huruf illat. Fi’il mudhari’ adalah lambang dari sosok manusia haraki, yang hidupnya berorientasi pada masa depan, tapi ia tidak buta dengan kondisi yang sekarang ia alami. Sebuah jamaah yang kokoh harus mampu melahirkan sosok kader yang berkepribadian fi’il mudhari’. Namun ini belum cukup, masih ada syaratnya, “akhirnya tidak berupa hurf illat.” Maksudnya ia tidak mempunyai orientasi tertinggi kecuali hanya mencari ridla Ilahi. Karena manusia haraki yang visi misinya berpenyakit hanya akan membuat jamaah ini sakit. Wallahu A’lam.  

 

 

Kukuh Sulisman

Kairo, 16 Januari 2007 

 

 


Blog EntryBahagia, Siapa Bisa!Jan 7, '07 3:16 AM
for everyone

Setiap orang pasti ingin hidup Bahagia. Tidak ada satupun yang berencana untuk sengsara. Mengapa ada orang yang rela bekerja keras, peras keringat banting tulang, pergi pagi pulang petang, meski kadang penghasilan pas-pasan? Jawabannya pasti pingin hidup bahagia. Mengapa ada pelajar yang rela belajar mati-matian, siang jadi malam, malam jadi siang, kadang makan pun terlupakan? Jawabannya pasti pingin hidup bahagia. Mengapa ada pria yang merindukan calon istri yang baik agamanya, cantik rupanya, keturunan orang mulia, dan berharta melimpah? Jawabannya pasti ingin hidup bahagia. Mengapa orang membangun rumah megah, membeli mobil mewah, mencari jabatan tinggi? Jawabannya pasti pingin hidup bahagia. Mengapa orang berpoligami? Jawabannya pasti ingin hidup bahagia. Mengapa orang mendambakan harta, tahta dan wanita? Jawabannya pasti pingin hidup bahagia.

 

Pada umumnya orang mengidentikkan kebahagiaan dengan segala sesuatu yang berada di luar kita. Mungkin hal itu ada benarnya. Tapi jika faktor kebahagiaan itu berasal dari luar diri kita, pasti hal itu tidak akan bertahan lama. Karena rumah mewah ada batasnya. Wajah cantik ada masanya. Jabatan tinggi ada pensiunnya. Kebahagiaan hakiki itu bersumber dari dalam hati, bagian ‘terdalam’ dari tubuh kita. Jika hati merasa bahagia, rumah sederhana akan terasa luas. Uang sedikit akan terasa mencukupi. Karena bagi hati yang bahagia, bukan berpikir banyak sedikitnya materi. Mewah tidaknya mobil pribadi. Atau megah tidak nya rumah. Tapi bagaimana sikap terhadap apa yang sudah kita miliki.

 

Kebahagiaan yang disebabkan oleh faktor eksternal adalah kebahagiaan yang semu. Kebahagiaan itu akan segera hilang setelah kita berhasil memiliki barang tersebut. Kita punya istri cantik, kecantikan istri bisa hilang karena melihat wanita yang lebih cantik. Mobil mewah akan terasa jelek setelah melihat yang lebih mewah. Banyaknya harta akan terasa sedikit setelah mendengar ada yang memiliki lebih banyak. Dan seterusnya. Dan kita tidak akan pernah merasa bahagia.

 

Kunci kebahagiaan itu terkumpul dalam NASI. Mungkin sejak dulu kita sudah mendengar kata ini, bahkan sejak kecil sudah memakannya. Akan tetapi tidak ada salahnya untuk merenungi kembali arti dan makna kata ini. Karena NASI yang sekarang ini berbeda dengan nasi yang anda santap tiap hari. NASI (Nggak Mempersulit diri/memperbesar masalah, Ampuni kesalahan orang lain, Syukurlah selalu, Iman yang kuat).

 

Kunci pertama kebahagiaan adalah Nggak mempersulit diri/memperbesar masalah. Banyak masalah besar yang timbul bukan karena penyebab yang besar. Kebanyakan masalah besar itu timbul justru karena kita yang rajin mendramatisir masalah. Belum ujian sudah takut gagal. Belum naik sepeda sudah takut kecelakaan. Belum pensiun  sudah takut tidak dapat gaji. Belum nikah sudah takut cerai. Dan lain sebagainya. Akhirnya kita terus tersiksa.

 

Hanya Allah lah yang maha Besar. Lainnya kecil. Semua permasalahan hidup ini akan terasa kecil kalau kita mampu menyikapi dengan penuh konsentrasi. Semua problematika kehidupan akan terasa ringan jika kita mampu menghadirkan Allah dalam setiap permasalahan. Tapi seringnya kita itu gegabah dan terburu-buru dalam bertindak. Jangan kan mampu menghadirkan Allah dalam setiap pekerjaan. Shalat saja yang seharusnya ingat pada Allah malah sering ingat yang macam-macam. Maka pantas jika beban kehidupan ini terasa berat.

 

Banyak suami yang marah kepada istrinya hanya disebabkan kaos kaki yang tidak ketemu dicari. Banyak istri yang marah kepada suami lantaran mendengar isu ia berjalan dengan wanita lain. Banyak kejahatan besar terjadi hanya akibat dari dengki. Kebanyakan hal-hal yang kita pusingkan dalam hidup sebenarnya hanyalah masalah-masalah kecil.

 

Kunci kedua kebahagiaan adalah Ampuni kesalahan orang lain. Alam dunia ini sarat dengan kekurangan. Tak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Kesempurnaan hakiki hanyalah milik Allah semata. Hanya Allah lah yang maha suci. Yang lain kotor. Manusia  yang suci bukan manusia yang tanpa dosa. Karena tidak ada manusia yang hidup tak memiliki dosa. Manusia suci adalah manusia yang mampu menyadari kesalahannya. Meskiun ia banyak dosa tapi ia selalu berisaha untuk menghapusnya. Meskipun banyak kesalahan tapi ia selalu berusaha untuk minta maaf. Kesucian manusia justru terletak pada kekotorannya. Jika kita mampu memahami konsep ini insya Allah kita akan terbuka untuk menerima kesalahan pihak lain.

 

Orang yang suka memaafkan tidak akan merasa tersinggung disebabkan kesalahan orang lain. Tidak akan dengki akibat ada saingan. Tak jarang permasalahan hidup datang, karena kita tidak pandai memaafkan orang lain. Orang akan tega membunuh karena tidak mampu memaafkan. Perkelaian bisa terjadi karena kita tidak bisa mengontrol diri. Tawuran bisa ada karena kita kurang waspada. Semuanya itu akan terselesaikan oleh kata memaafkan.

 

Seorang dokter berkebangsaan Amerika, Gerarld Jampolsky, mengatakan bahwa sebagian besar masalah yang kita hadapi dalam hidup bersumber dari ketidakmampuan kita untuk memaafkan orang lain. Ia bahkan mendirikan sebuah pusat penyembuhan terkemuka di Amerika yang hanya menggunakan satu metode tunggal yaitu, rela memaafkan.

 

Kunci ketiga adalah Syukurlah selalu. Orang akan merasa bahagia jika ia pandai bersyukur. Banyaknya harta dan kekayaan, tingginya pangkat dan jabatan, banyaknya teman dan relasi jika tidak diimbangi dengan kesyukuran hanya akan mengantarkan kepada siksaan.

 

Rakus adalah sifat dasar manusia. Seberapa pun banyaknya harta yang kita punya, pasti akan merasa kurang. Jika manusia itu memiliki dua gunung emas, niscaya ia akan meminta yang ketiga. Begitulah seterusnya. Hingga manusia itu mampir ke liang kubur. Makanya Islam mengajarkan kalau ingin hidup bahagia, dalam urusan dunia harus lihat ke bawah dan dalam urusan akhirat harus lihat ke atas.

 

Sebaliknya berbagai macam kejahatan bisa terjadi karena manusia tidak pernah belajar bersyukur. Suami yang tidak pandai mensyukuri usaha istrinya akan terjerumus ke dalam perselingkuhan. Istri yang tidak pintar bersyukur kepada suami akan menggoyangkan bahtera rumah tangga. Orang kaya yang tidak bersyukur akan menyebabkan kemiskinan di lingkungan sekitarnya. Suami istri yang tidak pandai bersyukur rumah tangga akan berantakan.

 

Kunci keempat adalah Iman. Jika komitmen keimanan kita semakin kua teruji insya Allah kita akan semakin mudah merasakan kebahagiaan hakiki. Karena bagi orang yang beriman setiap kondisi bisa dicptakan menjadi sesuatu yang menggembirakan. ketika di timpa musibah ia akan bersyukur dan ketika mendapat nikmat ia akan bersabar. Dan keduanya itu adalah yang terbaik bagi orang yang beriman.

 

Kairo, 7 Januari 2007


 Salah satu kejadian penting yang pernah tercatat dalam sejarah Islam adalah peristiwa Isra' Mi'raj. Sebuah perjalanan dakwah yang dialami Rasulullah di waktu malam dari Masjid Al-Haram hingga Sidratul Muntaha.

 

Isra' Mi'raj merupakan kenangan terindah yang pernah dimiliki fase dakwah periode Makkah. Sebuah periode dakwah yang diliputi krisis multi dimensi. Hampir setiap hari  kaum muslimin menerima tekanan dan makar dari kaum kafir Quraisy. Kondisi ini hampir mirip dengan nasib kaum muslimin Indonesia saat ini. Hanya saja  pada periode Makkah dahulu orang kafir berani terang-terangan. Beda dengan keaadan di Indonesia, kafir-kafir itu pandai bermain dalam selimut bahkan ada yang bertopeng seorang ulama.

 

Tapi yang perlu kita ingat, ternyata beberapa bulan setelah Isra' Mi'raj ini menyingsinglah babak baru sejarah dakwah dengan dimulainya periode Madinah. Suasana dakwah yang sedikit lebih nyaman. Kaum muslimin mendapat angin segar karena sedikit ada kebebasan berpikir, berekspresi dan  berkarya.

 

Waktu dan tempat Isra' Mi'raj memang masih diperdebatkan, sehingga ada sebagian ulama yang tidak membenarkan adanya perayaan dalam rangka memperingatinya. Terlepas dari itu semua kebanyakan umat Islam Idonesia sudah kadung biasa merayakannya. Maka lebih baik dari memperdebatkan hal itu adalah bagaimana kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran dari rentetan kejadian itu.

 

Sangat disayangkan  jika peringatan hari besar itu hanya dianggap sebagai sebuah ritual keagamaan, yang sepi dari nilai-nilai keimanan. Apalagi dirayakan dengan hiburan yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian tersebut. Seyogyanya, peringatan itu dijadikan sebagai sarana edukatip yang dapat menarik hikmah dan pelajaran guna diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

Secara kongkret pesan-pesan Isra' Mi'raj itu tercermin dalam hal-hal berikut: pertama, tumbuhnya kesadaran untuk sembahyang shalat. Shalat merupakan oleh-oleh isra' mi'raj yang paling berharga. Nabi Muhammad sendiri mendapatkan perintah shalat di tengah-tengah perjalanan agung ini.

 

Dalam tataran kehidupan berbangsa dan bernegara nilai shalat seseorang sangat mempengaruhi kondisi negara tersebut. Orang yang bisa menghayati ibadah ini akan mampu menjauhi perbuatan keji dan mungkar. Sehingga  seandainya bangsa ini sudah bisa khusu' dalam shalat, maka kekerasan, penggusuran, kesewenang-wenangan, dan ketidakadilan akan segera hilang dari bumi nusantara ini.

 

Kedua, tumbuhnya kesadaran berzakat dan bersedekah. Salah satu pemandangan yang sempat terlihat oleh nabi Muhammad saat mi'raj adalah seseorang yang sedang memanen padi, yang tiap kali ia memotonng batang padi,  saat itu juga batang-batang padi itu tumbuh kembali. Begitu seterusnya tanpa terputus. Kejadian itu menggambar orang yang biasa sedekah jariyah. Pahalanya tak kan terputus, meski orangnya sudah meninggal.

 

Gerkaan sadar zakat nasional memang perlu digulirkan. Karena cara ini sudah teruji mampu mengusir kemiskinan dan pengangguraan. Orang yang sadar zakat tak akan mau mengumpukan harta semata-mata untuk kepentingan dirinya, kelurga dan anak cucu. Karena dimatanya harta yang kekal adalah yang ia belanjakan dijalan kebaikan.

 

Ketiga, tumbuhnya gerakan jujur nasional. Dalam perjalanan Mi'raj Rasul sempat menyaksikan sekelompok orang berkuku tembaga sedang mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Rasul pun bertanya tentang keberadaan mereka, dan dijawab bahwa mereka adalah kelompok anti jujur. Sekelompok orang  yang biasa mengobral janji, menggembor-gemborkan keadilan dan kejuuran, demi kepentingan pribadi dan kelompoknya.

 

Umat yang jujur sangat dinanti-nanti bangsa ini. Sudah bosan sepertinya bangsa besar ini dengan janji-janji palsu. Orang-orang  yang ngakunya memperjuangkan keadilan dan kejujuran, tapi ia masih mau semena-mena terhadap rakyat kecil. Sehingga seandainya boleh disimpulkan, tersendatnya perkembangan bangsa ini adalah adanya orang-orang bertipe sok jujur ini.

 

Keempat, tumbuhnya kesadaran amar ma'ruf nahi munkar. Dalam perjalanan ini Nabi juga sempat ditawari dua gelas minuman. Yang satu bersi air susu dan yang lain berisi khamr. Tanpa ragu-ragu Nabipun memilih gelas yang berisi air  susu. Sebagai lambang bahwa fitrah umat ini dalah suka kebaikan.

 

Jika kesadaran amar ma'ruf nahi munkar ini sudah membudaya,  kemaksiatan akan semakin  mereda. Sehingga musibah dan cobaan untuk bangsa ini lama-lama akan  reda. Tapi ironisnya kebanyakan penduduk bangsa ini belum sadar dengan hal ini. Bahkan para petinggi -yang seharusnya memberi contoh-malah terkadang ikut meramaikan dan melindungi tempat-tempat kemaksiatan.

 

'Ala kulli hal, Rasululah menjalani Isra' Mi'raj ini, tidak sunyi dari ruh ilmiah. Maka sangat diharapkan adanya peringatan peristiwa agung ini dapat menggugah umat Islam untuk lebih menghidupkan akal serta membuka mata.

 

 Isra' Mi'raj adalah perkara ajaib yang secara tidak lanngsung  mengajak kita untuk meninjau kembali rentetan hidup dan kehidupan. Lebih jauh dari itu adalah untuk memaknai arti hidup pada masa-masa mendatang, berupa kemungkinan-kemungjkinan yang akan dapat dicapai umat manusia. Semuanya tiada  terepas dari keimanan yang akan membuat seorang  hamba untuk lebih serius dalam berserah diri kepada-Nya.

                                                                          

September 2005

 

 

 

 


Blog EntryManusia Agung di Musim PanasJan 3, '07 6:57 AM
for everyone

Puncak musim panas. Penduduk Madinah dilanda paceklik. Ketika itu Rasulullah SAW mengumandangkan panggilan jihad. Para sahabat pun segera menyisingkan baju, menyambut gembira seruan untuk berangkat ke medan perang.

 

Rasulullah mengumumkan perang kali ini, tidak seperti biasanya. Baru pertama ini secara lebih khusus ia menghimbau orang-orang kaya untuk lebih ikhlas menyumbangkan harta mereka. Strategi ini dipakai karena jarak perjalanan yang akan ditempuh cukup jauh dan tentara kafir yang akan dihadapi juga tidak sedikit. Jumlah paskan Romawi sampai 40.000 tentara. Maka berduyun-duyunlah para hartawan Muslim untuk menabung kekayaan mereka di sisi Allah. Abu Bakar datang menyerahkan seluruh hartanya.  Umar bin Khattab  mengikhlaskan separuh dari harta yang dimiliki. Utsman bin Affan  menginfakkan 1000 ekor onta dan uang sebanyak 1000 dinar.

Semangat istibaqul Khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) pekat mewarnai persiapan perang kali ini. Hampir semua sahabat mempersembahkan yang terbaik dari apa yang mereka punya.  Bahkan ada sebagian sahabat yang menyumbangkan air mata mereka, karena mereka tidak diizinkan ikut berperang lantaran tidak punya kendaraan untuk mengangkut mereka.

Melihat pemandangan indah ini orang-orang munafik tidak tinggal diam. Mereka menyebarkan desas-desus tipudaya,  menghalangi para sahabat  untuk tidak  menyertai Rasulullah ke medan perang, dengan dalih bahwa kebun kurma mereka sebentar lagi siap panen.

Tipudaya para munafikin itu tidak hanya tertuju kepada para sahabat, para istri mereka pun tak luput dari intaian. Persis seperti kisah Iblis ketika  mengganggu nabi Ibrahim untuk melaksanakan kurban. Para munafikin itu berkata, "Suami-suami kalian akan pergi ke Tabuk sementara kurma di kebun-kebun kalian sebentar lagi siap dipanen, siapakah yang akan mengurusnya? Istri-istri salihah yang setia itu menjawab dengan penuh rasa keimanan yang dalam, "Pencari rejeki akan pergi tapi Sang pemberi rejeki (Allah) tidak akan pernah pergi."

Peperangan pun tetap berlalu. Singkat cerita dalam waktu yang tidak lama Rasulullah  dan para sahabat dapat menyelesaikan tugas berat itu. Mereka pun segera kembali ke Madinah. Sesampainya di Madinah para sahabat heran. Bagaimana tidak, mereka mendapati tak satupun buah kurma yang telah masak di kebun mereka itu jatuh dari tangkainya seperti biasa. Hasil panen mereka malah berlipat ganda. Akhir kata para sahabat tidak mendapatkan kerugian sedikit pun dari panenan mereka.

#####

Dunia yang dihadapi manusia agung di zaman sahabat bisa jadi berbeda dengan realita sekarang. Jika para sahabat dahulu harus berhadapan dengan tantangan perang fisik di musim panas, kini manusia-manusia agung modern telah dikepung oleh berbagai tantangan. Mulai dari tantangan ekonomi, sosial, budaya (gaya hidup hedonisme), perang informasi hingga peradaban materi yang demikian maju dan siap memenuhi angan-angan serta hawa nafsu manusia.

Setidaknya ada lima karakter utama manusia agung yang tergambar dalam sosok prajurit perang Tabuk, sehingga mereka mampu melalui hari-hari di musim panas dengan tetap tegar dan siap menyambut seruan untuk berperang.

Pertama, karakter rabbani. Jalan hidup manusia agung adalah jalan rabbani, yaitu pola hidup yang berorientasi dan bersandar pada Allah SWT. Mereka mampu menyelami dan mewarnai dirinya sesuai dengan karakter rabbani ini. Untuk menjadikan hidupnya bersifat rabbaniyah, mereka menempuh jalan berinteraksi secara intensif dengan Al-Qur'an, dengan jalan membaca, tadabbur, menghayati, dan  mengamalkannya. "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Qur'an dan kamu tetap mempelajarinya." (QS. 3: 79).

Apabila karakter rabbani telah tertanam dalam jiwa, situasi dan kondisi apapun tak aka mampu menghentikan langkahnya. Persis seperti perkataan Ibnu Taymiyah, "Apapun kondisiku, sesungguhnya taman surga terletak dalam dadaku. Jika aku mati, aku akan memperoleh syahadah. Jika aku diasingkan berarti aku jaulah (melakukan perjalanan). Dan jika aku dipenjara itulah saatnya bagiku berkhalwat dengan Rabb-ku."

Kedua, karakter akhlaki. Akhlak merupakan bagian asasi dari  kehidupan seorang manusia agung. Suatu umat akan jaya jika akhlaknya tetap terjaga, dan suatu umat akan binasa jika akhlaknya telah sirna. Tugas terpenting diutusnya Rasulullah adalah untuk membenahi akhlak masyarakat jahiliyah. Akhlak kepada Tuhan, kepada sesama manusia dan akhlak kepada sesama makhluk.

Di musim panas ini perjuangan manusia agung semakin berat. Tantangan yang dihadapi  terus bertambah. Kadang ia sangat miris menyaksikan sebagian ulah masyarakat “jahiliyah modern” yang bertingkah khususnya di musim panas. Tapi ia tidak hanya bisa mengutuk dan mencaci. Karena kutukan dan cacian sering tidak menyelesaikan masalah. Lebih dari itu ia berusaha untuk bisa merubahnya. Ia tidak pernah diam tenang-tenang menyaksikan kemungkaran. Apalagi ikut-ikutan merasakannya. Ia sadar bahwa tanggung jawab besar ada pada pundaknya. Ia adalah pengawal moral bangsa. Tapi ia tidak sendirian dalam melakukan tugas perbaikan ini. Ia paham bahwa seorang diri takkan bisa berbuat banyak.  Butuh tim. Sekelompok manusia yang sadar akan kehadirannya di bumi. Bukan sekedar kelompok yang berkumpul tanpa aturan.

Ia ingat kisah ta'awun (kerja sama) pasukan mukmin di perang Tabuk dalam mencari tas salah seorang sahabat yang hilang saat menyeberang sungai, hingga seluruh pasukan turun ke sungai mencarinya, membuat pasukan pengintai musuh ketakutan. Pikir mereka, "Jika untuk sebuah tas dari salah seorang kawan saja mereka siap berkorban apalagi untuk sebuah nyawa ."

Ketiga, karakter amal. Ciri lain yang melekat pada manusia agung adalah selalu beramal. Ukuran dalam berbuat tidak tergantung pada sedikit banyaknya Amal, tapi pada sedikit banyaknya keikhlasan. Amal sedikit apapun jika dilandasi keikhlasan akan bernilai besar di sisi Allah. Amal sebesar biji zarrah (atom) pun akan dihitung oleh  Allah.

Hatim al-Asham, pernah berkata," Aku lihat setiap orang memiliki kekasih. Namun tak ada satupun yang mau mengantar dan menemaninya di alam kubur. Hanya  satu kekasih yang mahu menemani sampai kita di alam kubur, yaitu amal kita. Karena itu aku menjadikan amalku kekasih yang tak pernah lepas dariku setiap saat."

Ciri amal inilah yang membedakan manusia agung dengan yang lain. Dengan amalan yang terus mengalir, ia mampu membuat arus kebenaran, yang pada akhirnya akan menjadikan dunia ini terlarut dalam gelombang kebenaran. Ia tidak hanya pandai bermimipi indah, membuat konsep yang muluk-muluk dan teori seabrek yang jauh dari amal konkret. Ia pun sadar bahwa kekuatan akal manusia sangat terbatas.

Kedudukan karakter amal ini sangat urgen, apalagi jika kita melihat pada satu realita hidup bahwa kerja-kerja yang ada selalu lebih banyak bila dibanding jumlah bilangan orang yang ingin mengerjakannya. Manusia-manusia agung adalah mereka yang mampu berpindah dari dairatul kalam (kawasan lisan) pada dairatul amal (kawasan kerja/amal). Karena pengaruh amal jauh lebih kuat dan terasa ketimbang pengaruh lisan.

Keempat, karakter ihsan (efektif dan terencana). Tidak hanya sembarang amal yang dikehendaki oleh seorang manusia agung. Lebih dari itu ia harus mampu bekerja dengan efektif dan terencana. Karakter ihsan ini menjadi lebih penting karena banyaknya tugas dan tantangan yang selalu menghadang  manusia agung. Sebuah kemungkaran yang dilakukan dengan profesional dan terencana dengan baik akan mampu mengalahkan kebaikan yang jauh dari rencana yang matang dan kerja yang profesional.

Kisah Salman Al-Farisi dalam menggali parit untuk persiapan Perang Khandaq menjadi contoh kerja ihsan. Saat ia menggali, cangkul menumbuk batu keras yang sulit dipecah. Dipanggillah sahabat-sahabat yang lain untuk membantu menggali. Namun tak seorangpun mampu memecah batu itu. Hingga Rasul pun diminta. Kali pertama menggali terperciklah api dan Rasul bertakbir. Sahabat bertanya, "Ada apa ya Rasulullah?" Rasul menjawab, "Aku melihat istana Persi dalam genggaman pasukan Islam.”

Kali kedua menggali ia pun bertakbir dan berkata, "Aku melihat istana Romawi pun dikuasai pasukan muslim." Sehingga hasil kerja ihsan Salman yang terus menggali, tidak membelokkannya –walaupun itu oleh—membuat Allah menurunkan kabar gembira itu. Andai Salman membelokkannya tentu kabar gembira itu tak didapati oleh Rasul dan para sahabat.

Kini musim panas terbentang luas di depan kita. Kesempatan untuk memilih sepenuhnya ada pada tiap individu. Tantangan dan godaan juga akan hadir merayu siapa saja. Diantara mereka ada yang mampu berperang di musim panas, seperti sikap para sahabat dalam memenuhi seruan jihad. Dan diantara mereka ada yang akan bersantai ria menunggu hilangnya musim panas sambil menikmati suasana.

Tapi manusia agung tidak mudah menyerah oleh keadaan. Baginya musim semi, gugur, panas dan dingin tak ada bedanya. Yang terlintas dalam pikirannya hanya usaha untuk bisa mempersembahkan yang terbaik bagi bangsa dan umat ini. Perbedaan musim tidak menjadi masalah. Karena ia bukan manusia musiman. Yang menjadi masalah baginya adalah jika dirinya tidak lebih dewasa dan lebih arif dengan deretan masalah yang menyapa. Wallahu a’lam.

 

 

 


Blog EntryMenapaki Kehidupan; Belajar Dari UjianJan 2, '07 3:55 PM
for everyone

Ujian. Itulah mungkin kata yang terpikir oleh kita akhir-akhir ini. Setiap mata memandang hanyalah antrian mahasiswa yang memenuhi halte bus. Tiap kali mau naik mobil, mahasiswa bergelayutan di delapan puluh coret atau enam puluh lima kuning lah yang nampak. Ya sebentar lagi ujian. Beruntunglah bagi Anda yang sudah mempersiapkan diri baik-baik sejak jauh hari. Tapi bagi yang belum sempat kuliah, jangan khawatir kesempatan untuk berusaha masih terbuka. Anda belum terlambat. Bahkan sebagian muhadlarah juga masih berlangsung.

Tatkala mendengar kata "ujian" kebanyakan kita masih menganggapnya sebagai kata angker. Ujian, imtihan, ulangan, tes, seakan menjadi beban yang menyusahkan. Padahal ujian adalah sebuah keniscayaan dalam hidup ini. Tidak ada makhluk hidup yang tidak mengalami ujian. Justru memalui ujian ini derajat kita akan meningkat. Allah  berfirman, “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.”

Oleh karena itu ujian adalah penting bagi kita. Ujian akan membuat sesuatu menjadi terukur. Akan mendorong kita untuk selalu meningkatkan potensi diri kita. Dengan ujian kita akan tahu siapa diri kita yang sesungguhnya.  Kemampuan apasaja yang sudah kita miliki. Berapa banyak ilmu yang sudah kita kuasai. Berapa juz Al-qur’an yang sudah kita hafal. Semua itu akan kita ketahui setelah melewati ujian.

Jadi yang menjaadi masalah bukan ada tidaknya ujian, tapi bagaimana cara menyikapi ujian. Dan itu butuh ketrampilan. Dari soal yang sama bisa jadi akan menimbulkan masalah yang berbeda. Ada yang senang dan ada juga yang sedih. Maka jika kita salah dalam memasang rumusnya, maka akan salah pula dalam menjawab dan menyikapi ujian tersebut.

Secara umum sikap mahasiswa dalam menghadapi ujian ini dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah jenis mahasiswa yang menyikapi ujian dengan membayangkannya sebagai suatu beban yang sangat berat. Lari sebelum berperang. Mahasiswa tipe ini pada umumnya akan mudah jatuh. Ia menganggap ujian yang akan dihadapinya adalah beban yang sangat berat dan sulit untuk dipecahkan. Baginya, ujian adalah rentetan penderitaan. Ia tidak mengetahui ujung dari ujian itu, bisa jadi karena tertutup oleh tebalnya mukoror. Sampai ada yang nekad tidak masuk ujian. Alasannya satu, takut. Padahal realitanya ujian tidak seberat apa yang ia bayangkan.

Mahasiswa tipe ini akan dipersulit oleh dirinya sendiri. Bukan oleh keadaan yang memang benar-benar sulit. Diceritakan bahwa di sebuah perguruan tinggi, hiduplah seorang dosen yang terkenal angker di kalangan mahasiswa. Benci, killer dan horor. Itu mungkin kata-kata yang mewakili untuk mengungkapkan perasaan mahasiswa kepada dosen ini. Sampai pada suatu hari, sepakatlah lah para mahasiswa untuk membuat perhitungan. Singkat cerita, dosen ini disandra. Matanya  ditutup. Dengan nada yang sangat mengerikan para mahasiswa mengintrogasi habis-habisan. Ada yang mengusulkan agar ia ditusuk dengan pisau saja supaya kapok. Mendengar perkataan ini dosen tegang, ketakutan. Yang terbayang olehnya sebentar lagi sebuah benda tajam akan menusuknya dan darah akan segera membasahi tubuhnya. Pikirannya sudah mati sampai  di situ. Para mahasiswa ini akhirnya meletakkan sebuah pisau mainan yang terbuat dari kardus di dekat lehernya. Kemudian menyiram tubuh dosen tersebut dengan air biasa. Tak disangka dosen tadi  tiba-tiba kejang dan meninggal dunia.

Golongan kedua adalah mahasiswa yang menyikapi ujian dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang ringan. Persiapan bisa mendadak. ‘Sistem Kebut Semalam’ biasanya menjadi alternatif utama. Belajar kalau ujian sudah dekat. Menghafal al-Qur’an bila hari imtihan tinggal hitungan jari. Belajar karena ujian.  Padahal guru kita waktu SD dulu mengajarkan bahwa justru dari ujian itu kita belajar. Bukan belajar semata-mata karena ujian.

Belajar yang dilakukan hanya untuk ujian, ketika ujian selesai, ilmu yang dipelajari dan dihafal biasanya juga ikut-ikutan selesai. Yang membekas hanyalah rasa lelah dan letih. Uang  habis untuk membeli dan memphotocopy mukoror dan talkhisan, pulsa berkurang karena digunakan untuk menelepon kawan-kawan menanyakan tahdidan. Hanya sebatas itu. Padahal masyarakat menilai bahwa kita belajar semua cabang ilmu. Sehingga ketika kembali ke tanah air sudah mengantongi segudang ilmu yang siap ditransfer kepada umat.

Golongan ketiga adalah mahasiswa yang menghadapi ujian dengan sikap tenang. Serius tapi santai, santai tapi serius. Ia mampu memetakan medan yang akan ia terjuni. Jauh-jauh sebelum hari ‘H’ sudah mempunyai gambaran tentang ujian. Ia tahu bahwa semua ujian ini pasti terukur. Tidak mungkin Allah memberikan ujian yang tidak bisa dipecahkan. Bahkan pernah ada kawan yang bilang, saya senang sekali  seandainya tiap minggu ada ujian. Karena dengan ujian itu kita akan selalu terdorong untuk belajar. Semangat untuk hadir di muhadlarah juga akan timbul jika kita merasa sudah dekat dengan ujian.

Subhanallah. Saya sendiri kagum dengan mahasiswa seperti ini. Maka tidak mengherankan jika kemudian ia mampu mengukir prestasi. Karena hari-harinya saya amati memang penuh prestasi. Hampir tiap malam qiyamullail tak pernah ia tinggalkan. Minimal satu juz al-Qur’an setiap hari ia lantunkan. Kalau mau bertemu dengan dia, cara paling mudah adalah pergi saja ke masjid dekat rumahnya saat shalat maktubah. Pada jam-jam kuliah jangan berharap anda akan menjumpainya di rumah. Sejak pukul delapan pagi dia sudah berangkat kuliah. Ketika antri menunggu bus, ia masih sempat untuk membaca dan murajaah al-Qur’an.

Orangnya ramah. Senyum manisnya selalu dihadiahkan kepada siapa saja yang menjumpainya. Tawadlu’, sejuk dan—masya Allah—sopan sekali. Meski  segudang pretasi berhasil ia raih, tapi tidak membuatnya menjadi petentang-petenteng. Ia bahkan mau membantu adik-adiknya. Tidak hanya dalam hal bimbingan mukoror, tapi juga mencarikan rumah, mengantar ijroat serta takdim beasiswa.

Menurutnya belajar adalah tugas utama. Ujian-tidak ujian bawaannya buku. Ya ia lebih suka menyisakan sakunya tuk beli buku dari pada untuk jajan, apalagi shopping ke mall. “       Yang penting bagi saya bukan rasib dan najahnya. Tapi bagaimana kita bisa serius berusaha semaksimal mungkin sebelum turun berita rasib atau najah. Meskipun kita rasib tapi kalau usaha kita memang benar-benar sudah maksimal pada hakikatnya kita najah. Ujian di Al-Azhar ini misterius. Kadang ada pelajaran yang dianggap mudah eh malah rasib. Orang yang cerdas tidak menjadi jaminan akan sukses di Al-Azhar. Banyak teman yang katanya hafidz tapi madah al-Qur’annya malah rasib. Kita tidak bisa menyepelekan hubungan kita dengan Allah. Karena Dialah yang mengatur hidup ini. Ketika kita akrab dengan-Nya insya Allah prestasi juga akan akrab dengan kita. 


 


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.