“Sesungguhnya telah kami turunkan al-Quran pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar adalah lebih baik daripada seribu bulan.” (QS.Al-Qadr:1-3).
Beribadah di malam itu dengan ketaatan, shalat, tilawah, dzikir, do'a dsb sama dengan beribadah selama seribu bulan di waktu-waktu lain. Seribu bulan sama dengan 83 tahun 4 bulan.
maksudnya, malam itu adalah malam keselamatan dan kebaikan seluruhnya, tak sedikit pun ada kejelekan di dalamnya, sampai terbit fajar. Di malam itu, para malaikat -termasuk malaikat Jibril- mengucapkan salam kepada orang-orang beriman. Dalam satu hadits shahih, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan keutamaan melakukan qiyamul lail di malam tersebut. Beliau bersabda: "Barangsiapa melakukan shalat malam pada saat Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaq 'Alaih)
Tentang waktunya, Rasulullah SAW bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada (bilangan) ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan." (HR. Al-Bukhari, Muslim dan lainnya).Yang dimaksud dengan malam-malam ganjil yaitu malam dua puluh satu, dua puluh tiga, dua puluh lima, dua puluh tujuh, dan malam dua puluh sembilan.
Adapun qiyamul lail di dalamnya yaitu menghidupkan malam tersebut dengan shalat tarawih, sholat tahajjud, membaca Al-Qur'anul Karim, dzikir, do'a, istighfar dan taubat kepada Allah Ta 'ala.
Ada beberapa kiat yang perlu diperhatikan dalam menjemput malam al qodar ini antara lain:
Pertama, mendirikan shalat malam (qiyam lail), Rasululaah merekomendasikan untuk menegakkan shalat malam yang panjang pada saat kemungkinan turunnya malam al Qadar. Diriwayatkan dari Abu Dzar r.a bahwasanya beliau bersbda: “Barangsiapa yang berdiri untuk shalat bersama imam hingga imam menyelesaikan shalatnya, maka akan dicatat bahwa dia shalat sepanjang malam. (Hadits Sahih dari Ibnu Abi Shaybah, Abu Dawud, At Tarmizi, An Nasa’i, Ibnu Majah dan Al Baihaqi).
Kedua, berdoa kepada Allah. Pada malam ini direkomendasikan untuk mengintensifkan doa. Dari Aisyah RA beliau bertanya lepada Rasulullah SAW. Wahai Rasulallah, bilamana saya mengetahui kapan malam Lailatul Qadar, apa yang harus saya katakan saat itu. Nabi menginstruksikan kepada Aisyah untuk mengatakan: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anna (HR Ahmad, Ibnu Majah dan At Tarmizi)
Ketiga, Meninggalkan kesenangan untuk beribadah kepada Allah, dimana direkomendasikan untuk menyediakan waktu untuk beribadah pada malam hari dimana kemungkinan adanya malam al qodar. Dari Aisyah RA, ketika mulai 10 hari terakhir ramadhan, Nabi Saw mengencangkan ikat sarungnya (beliau menjauhi istrinya untuk beribadah kepada Allah), menghabiskan sepanjang malam untuk beribadah dan membangunkan keluarganya (HR.Bukhari-Muslim). Dan Aisyah berkata, Rasul Saw mengerahkan secara maksimal seluruh potensi dirinya untuk beribadah pada 10 hari terakhir ramadhan (HR.Muslim)