Blog EntryMitos di Bulan ShafarFeb 15, '07 6:20 PM
for everyone


Kebudayaan adalah tradisi komunitas tertentu yang pada gilirannya dianggap sebagai kekayaan dan almamater komunitas tersebut. Karenanya, kebudayaan itu biasanya sulit--untuk tidak mengatakan tidak mungkin--dihilangkan dari masyarakat. Maka Wali Songo memilih kebudayaan masyarakat yang menjadi sasaran dakwahnya. Mereka sadar kalau merubah seratus persen kebudayaan yang ada berarti siap melawan arus yang sangat kuat.

 

Para da'i pun biasanya menempuh jalan dakwah dengan memoles dan mewarnai kebudayaan 'jahiliyah' itu dengan ruh Islam. Dan uniknya, metode “dakwah polesan” itu cukup sukses menarik simpati kaum abangan. Puncaknya, Islam di tanah Jawa menemukan kejayaan yang sangat berarti.

 

Salah satu kepercayaan (baca:mitos) yang sudah berkembang di kalangan masyarakat 'awam'  adalah tentang misteri bulan Shafar yang diklaim sebagai bulan yang penuh kesialan. Anggapan itu bukan tanpa alasan. Menurut pemahaman mitos ini, kata Shafar berarti sejenis penyakit di dalam perut dan berbentuk ulat besar yang dapat membunuh. Kepercayaan itu sudah ada sejak zaman Jahiliyah. Mereka menganggap bulan Shafar sebagai bulan yang sarat dengan kejelekan.

 

Selain itu, hari Rabu dianggap sebagai hari nahas kedua setelah bulan Safar. Namun Rabu yang dimaksud adalah hari Rabu terakhir (jawa, Rabu Bekasan ) saja dalam setiap bulan. Ironinya, banyak referensi klasik yang menyebutkan hal itu. Lalu, apa hubungan bulan Shafar dengan hari Rabu--walaupun keduanya sama-sama dianggap sial?

 

Dalam sebuah referensi klasik disebutkan, bahwa Allah menurunkan 3333 penyakit di bulan Safar, dan hal itu bertepatan dengan hari Rabu terakhir. Maka, bila keduanya bertemu otomatis tensi kenahasannya akan semakin besar: dua kali lipat lebih berbahaya.  Naifnya, keyakinan ini sudah beranak-pinak.

 

Dalam pandangan mereka, hari Rabu terakhir di bulan Shafar tak ubahnya sosok hantu menakutkan. Maka tak heran jika kemudian orang Arab melarang semua anggota keluarganya bepergian di hari Rabu. Di hari itu, semua kerabatnya diperintah untuk menetap di rumah, tidak keluar dan hanya berdiam diri; keluar rumah berarti mengantarkan nyawa pada hantu.

 

“Tidak ada penyakit menular dan kepercayaan pada rekaan itu tidak benar”. Demikian disabdakan Nabi dalam salah satu haditsnya. Hadits itu bermula dari kepercayaan orang awam yang sangat mempercayai takhayul. Hadits itu untuk mengcounter kepercayaan di atas selain juga berusaha memberantas kepercayaan yang berbau mistik. Ironisnya, keyakinan itu tertanam begitu mendalam, bahkan  terkadang sampai pada mentiadakan qadla Allah (na'udzubillah).

 

Kepercayaan terhadap takhayul sebenarnya sudah ada sejak pra-Islam, Jahiliyah. Nabi pernah berdebat dengan orang Badui terkait hal yang berbau mistis atau takhayul. “Tidak ada penyakit menular dan tidak ada kepercayaan pada takhayul”, sabda Nabi Muhammad. Badui berkata, “Lantas, bagaimana dengan unta yang sehat, kemudian sakit setelah didekati unta yang sakit?” Nabi balas menjawab, “Lalu siapa yang menulari unta pertama?”. Percakapan ini mengindikasikan bahwa kepercayaan seperti itu tidak ada dan tidak dibenarkan adanya menurut perspektif Islam. Sebab, semua hal yang terjadi di dunia ini sudah ditakdirkan oleh Allah SWT.

 

Dalam sebuah kesempatan, Nabi Muhammad pernah bersabda “Larilah dari penyakit Judam (Kusta), seperti halnya kamu lari dari kejaran macan”. Hadits ini memberi indikasi bahwa takhayul dan kepercayaan orang-orang Jahiliyah sangat beralasan. Bagaimanapun juga, segala sesuatu yang membahayakan harus kita jauhi. Andaikan kepercayaan itu tanpa alasan maka Nabi tidak akan pernah mengatakan hal itu (lari dari penyakit Kusta). Lantas, bagaimana dengan hadits kedua yang justru mentiadakan kepercayaan takhayul?

 

Syari’at menganjurkan kita untuk berikhtiar dan berusaha menjauhi semua hal yang berbahaya bagi jiwa. Di sinilah pentingnya mengkompromikan kedua hadits tersebut guna menghindari mispersepsi sebagian orang awam.

 

Para ulama menjelaskan bahwa hadits pertama itu menafikan fanatisme buta orang-orang Jahiliyah yang menvonis kelemahan takdir Allah dibanding kepercayaan dari nenek moyang yang tertanam dalam jiwa mereka. Akhirnya hari nahas diklaim setara dengan takdir; bisa menentukan hidup dan mati seseorang. Sedangkan hadits yang kedua, menganjurkan kita agar menjauhi sebab lahiriah dari terjangkit penyakit. Salah satu caranya adalah dengan menjauhi sebab-sebab pernyakit. Sedangkan sebab-sebab yang bersifat bathiniyah manusia tidak mempunyai hak untuk mengatur. Klaim hari nahas adalah salah satu dari Bathiniyah, yang siapapun tidak memiliki otoritas untuk menentukannya selain Allah.

 

Pada hakikatnya tidak ada yang bisa menolak datangnya penyakit yang digariskan Allah. Segalanya ada dalam sifat absolutisme Allah sejak zaman Azaly. Oleh karena itu, kita hanya diperintahkan untuk melakukan langkah antisipatif (ikhtiar), atau setidaknya menunda datangnya penyakit yang dimaksud dengan menjauhi penyebabnya. Salah satunya dengan berdo’a, memperbanyak sadaqah dan beramal baik. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan, “Yang dapat menolak penyakit hanya do’a. Apabila penyakit itu tertolak, maka itupun bagian dari takdir Ilahi” (HR. Turmudzi).

 

Oleh karena itu, tidak ada istilah hari atau bulan nahas, celaka, sial dan lain sebagainya. Yang ada hanyalah hari dan bulan yang mulia. Seperti Ramadlan, Syawal dan Dzulhijjah, termasuk Shafar dengan dilihat sebagai media guna meningkatkan amal ibadah kita.

 

Kehidupan ini berjalan atas takdir dan kekuasaan Allah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari takdir. Toh, semuanya itu ada tujuan dan manfaatnya. Namun demikian, takdir bukanlah harga mati, sebagaimana diasumsikan sebagian orang selama ini. Takdir masih bisa “ditawar”. Tergantung bagaimana kita “merayu” Allah dengan do’a yang dapat mengetuk pintu rahmat-Nya. (sg)

 

1 Shafar, 1428 H

 


23 CommentsChronological   Reverse   Threaded
abuluthfia wrote on Feb 15, '07
Subhanallah... Jazakallahu khairan katsiran bagus sekali... hal-hal seperti itu yang masih kuat di pegang oleh masyarakat awam dan kadang di perkuat oleh ustadz-ustadznya itu sendiri seolah-olah hal seperti itu (seperti yang di paparkan diatas) ada dasar hukumnya dari Rasulullah SAW... terima kasih, mudah-mudahan kita selalu berpegang kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah dan mudah-mudahan kita diberi kemampuan untuk bisa menyampaikannya... Amiin
rinrinjamrianti wrote on Feb 15, '07
makasih sharenya..... tdk mudah merubah tradisi, tp kl bertentangan dg Islam tentu kita wajib merubahnya, minimal mengingatkan orang2 terdekat terlebih dahulu....
metafora wrote on Feb 15, '07
segala sesuatu datangnya dari Allah bukan tanpa alasan yg tidak dapat diterima akal manusia..
cabekriting wrote on Feb 15, '07
sharing bagus, tadi naik bus ke kantor, ada penjaja koran berjualan
"harian W#$%^&* K%^&, satu Jin ditangkap di Mampang, sudah dimasukkan ke dalam botol oleh uztad" dooh...bisa ya? :)
pendangkalan akidah
nzarno wrote on Feb 15, '07
oh gitu ya baru tahu nih makasih sharenya..
syifa95 wrote on Feb 15, '07
tradisi yg sudah melekat n mengakar emang susah dirubah..
tapi alhamdulillah keknya sekarang sedikit demi sedikit banyak tradisi yang sudah mulai berkurang..
seperti yang terjadi dengan tradisi dikampungku... banyak sekali kaum muda yang sudah meningglaknnya dan beralih kesariay islam yang benar..
n4il4 wrote on Feb 16, '07
Saya baru tau soal mitos ini, krn memang dari kecil dididik gak percaya apapun yg berbau takhayul. Cuma percaya hal yang gaib jika jelas-2 ada dalilnya. Jadi baru tau sekarang, terima kasih ya atas infonya. Kelak kalo ada yg bicara soal ini, saya kan jadi tau apa maksudnya.
n4il4 wrote on Feb 16, '07
Baru selesai baca semuanya nih. Jadi inget pernah baca hadist yang menganjurkan kita mengisolasi diri jika tahu terjangkit penyakit yang bisa menular. Disini, biarpun belum ada perkembangan medis spt sekarang (dan ingat zaman itu kan orang belum tahu penyakit itu disebabkan oleh bakteri/virus masih anggapan soal sial/mistik diatas)...berarti menunjukkan bahwa Islam sudah berkaitan dengan science medis. Jadi hadist yg anda tulis tentang kusta, tidak ada sangkut pautnya dengan takhayul, tetapi karena penyakit kusta disebabkan oleh bakteri yang bisa menular, bukan karena mistik. Bagus ya ajaran Islam itu ?
abunasr wrote on Feb 16, '07
seolah-olah hal seperti itu (seperti yang di paparkan diatas) ada dasar hukumnya dari Rasulullah SAW...
Ya mas, emang ada haditsnya tp doif.
abunasr wrote on Feb 16, '07, edited on Feb 16, '07
makasih sharenya..... tdk mudah merubah tradisi, tp kl bertentangan dg Islam tentu kita wajib merubahnya, minimal mengingatkan orang2 terdekat terlebih dahulu....
step by step, harus bil hikmah wal mau'idhotil hasanah
abunasr wrote on Feb 16, '07
segala sesuatu datangnya dari Allah bukan tanpa alasan yg tidak dapat diterima akal manusia..
Dia yg menciptalan kehidupan dan kematian.
abunasr wrote on Feb 16, '07
sharing bagus, tadi naik bus ke kantor, ada penjaja koran berjualan
"harian W#$%^&* K%^&, satu Jin ditangkap di Mampang, sudah dimasukkan ke dalam botol oleh uztad" dooh...bisa ya? :)
pendangkalan akidah
Di Indon memang masih byk klenik. Apalagi di jawa.
abunasr wrote on Feb 16, '07
nzarno said
oh gitu ya baru tahu nih makasih sharenya..
makasih kembali Mas
abunasr wrote on Feb 16, '07
syifa95 said
tradisi yg sudah melekat n mengakar emang susah dirubah..
tapi alhamdulillah keknya sekarang sedikit demi sedikit banyak tradisi yang sudah mulai berkurang..
seperti yang terjadi dengan tradisi dikampungku... banyak sekali kaum muda yang sudah meningglaknnya dan beralih kesariay islam yang benar..
tak ada yg tdk bisa dirubah, tp jangan gegabah, harus penuh hikmah
Comment deleted at the request of the author.
abunasr wrote on Feb 16, '07
n4il4 said
Bagus ya ajaran Islam itu ?
Ajaran Islam tuh indah banget, tp kadang umat Islam sendiri yg mengotorinya.
agustianwar wrote on Feb 16, '07
Entri yang bagus, informatif dan mencerahkan, Mas....terbukti banyak yang baru tahu dan memetik manfaat....salam, Anwar...
abunasr wrote on Feb 16, '07
Entri yang bagus, informatif dan mencerahkan, Mas....terbukti banyak yang baru tahu dan memetik manfaat....salam, Anwar...
wa'alaikum salam mas Anwar, Terimakasih banyak
evidakartini wrote on Feb 16, '07
memang susah untuk menjelaskan sesuatu yang baru dan menggantikan yang lama secara cepat, butuh waktu. Bahkan untuk kaum intelektual sekali pun pada saat sekarang ini, benar itu.. apalagi untuk kaum abangan pada masa wali songo. pasti perjuangannya sulit.

jangan salahkan model seperti itu, tapi justru kita melanjutkan perjuangan mereka dengan mengikis bid`ah2 itu. Gak ada abisnya kalo hanya mempersalahkan yang menurut kita tidak sesuai tanpa gerak nyata.
abelned wrote on Feb 16, '07
emang sukar siy ngilangin ginian. tapi mo gimana lagi udah jadi sugesti. jadi yang ngendaliin otak bawah sadar individual tsb. Seiring dengan perkembangan jaman lambat laun berubah juga kok.
apalagi klo udah menyangkut masalah perut. mau baik ato gak harinya tetep aja harus kerja nyari duit.....
rikyyonathan wrote on Feb 16, '07
bulan shafar?? kok saya gak tahu kalo bulan shafar itu dikatakan bulan sial...
Apa itu cuma budaya di daerah jawa saja?
abelned wrote on Feb 16, '07
bagi sebagian masyarakat bugis sulawesi n banjar dikalsel juga loh...
tapi biasanya generasi ini dari generasi tua.
abunasr wrote on Feb 16, '07
bulan shafar?? kok saya gak tahu kalo bulan shafar itu dikatakan bulan sial...
Apa itu cuma budaya di daerah jawa saja?
di jawa ramai banget,
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Template design Copyright © 2005 Remi Prevost Some rights reserved.